## MOHON MENGKLIK SALAH SATU KONTEN IKLAN YANG MUNCUL DI BLOG KAMI SEBAGAI BENTUK DONASI PENGUJUNG YANG AKAN DIGUNAKAN UNTUK MAINTENANCE BLOG KAMI ##

Thursday, 20 June 2013

LAPORAN PRAKTIKUM PLATYHELMINTHES



LEMBAR PENGESAHAN

            Laporan lengkap praktikum Taksonomi Invertebrata dengan judul “Platyhelminthes” yang disusun oleh:

Nama              : Lasinrang Aditia
Nim                 : 60300112034
Kelas               : Biologi B
Kelmpok         : I (satu)

            Telah diperiksa oleh Kordinator Asisten / Asisten dan dinyatakan diterima.

                                                                                                                          Samata-Gowa,  Mei 2013

Kordinator Asisten                                                                               Asisten




 (Hasnah S.Si)                                                                             (Firman Adi Saputra)                                                                                                                                       60300111002


Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab



(Ar. Syarif Hidayat S.Si, M.Kes)



A. Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu:
          1.    Mengamati larva – larva trematoda pada stadium cercaria dan redia.
     2.    Melaporkan gerakan – gerakan ataupun morfologinya.
B. Dasar Teori
                 Platyhelminthes adalah cacing daun yang umumnya bertubuh pipih. Beberapa ahli menganggap Nemertia, yaitu satu kelas yang tergabung dalam Platyhelminthes sebagai filum tersendiri yaitu filum Nemertia. Cacing daun bersifat triploblastik, tetapi tidak berselom. Ruang digesti berupa ruang gastrovaskular yang tidak lengkap. Cacing pita tidak mempunyai saluran digesti. Walaupun hewan-hewan itu bersifat simetri bilateral, namun mereka mempunyai sistem ekstretorius, saraf, dan reproduksi yang mantap. Sebagaian anggota cacing daun itu hidup parasitis pada manusia dan hewan. Cacing-cacing planaria hidup dalam air tawar. Cacing hati dan cacing pita bersiklus hidup majemuk dan menyangkut beberapa inang sementara. Cacing-cacing nemertian hidup mandiri di laut dan terkenal sebagai cacing ikat pinggang (Mukayat, 1989: 81).
                Platyhelminthes adalah sekelompok orgnisme yang tubuhnya pipih, bersifat tripoblastik, tidak berselom. Pada umumnya spesies dari platyhelminthes adalah parasit pada hewan. Ektoderm adalah tipis yang dilapisi oleh kutikula yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya dari cairan hospes. Sistem ekskresi hanya saluran utama yang mempunyai lubang pembuangan keluar tidak memiliki sistem sirkulasi, maka bahan makanan itu di edarkan oleh pencernaan itu sendiri. Alat reproduksi jantan dan betina terdapat pada tiap – tiap hewan dewasa. Alat jantan terdiri atas sepasang testis, dua pembuluh vasa deferensia, kantung vesiculum seminalis, saluran ejakulasiyang berakhir pada alat kopulasi dan penis (Maskoeri, 1992: 139).
                Platyhelminthes dapat dibagi atas beberapa kelas yaitu kelas tubellari, contoh organisme dari kelas ini adalah planaria yang hidup di air tawar , bipalium dan geoplana yang hidup pada tanah,berikutnya kelas trematoda, merupakan hewan yang parasit, tidak mempunyai mata kecuali pada larvanya, tidak bercilia kecuali pada larvanya, mempunyai kutikula mulut disebelah anterior, farinks tidak berotot, tidak ada anus usus berbentuk garpu, mempunyai pengisap, hermaprodit, mempunyai kelenjar kuning. Contoh : Fasiola hepatica. Selanjutnya kelas cestoda, merupakan hewan hermaprodit, tidak mempunyai alat pencernaan makanan, merupakan endoparasit pada hewan vetebrata, Mempunyai saraf pada bagian kedua sisi tubuhnya yang berhubungan dengan kepala. Mempunyai saluran ekskresi yang diperlengkapi dengan protonefrida. Tiap progtida mengandung organ – organ alat jantan dan betina yang lengkap. Telur – telurnya di kumpulkan pada uterus (Yusminah, 2007: 19).
                 Kebanyakan filum Platyhelminthes hidup sebagai parasit, maka umumnya merugikan manusia, baik langsung sebagai parasit pada tubuh manusia maupun parasit pada binatang peliharaan seperti babi, sapi, anjing dan sebagainya. Usaha-usaha untuk mencegah infeksi pada manusia atau binatang peliharaan biasanya dengan memutuskan siklus hidupnya baik mencegah jangn sampai terjadi infeksi pada hospes perantara maupun pada hospes tetapnya sendiri. Oleh karena hal tersebut, pembuangan faeces manusia harus diatur sehingga tidak memungkinkan terjadinya siklus hidup yang lengkap. Misalnya untuk Taenia terjadinya hexacant tertelan ternak tidak diberi kemungkinan. Daging yang akan dimakan manusia diusahakan harus matang sehingga cysticercusnya mati (Maskoeri, 1992: 131).
C. Metode Praktikum
1. Waktu dan Tempat
            Adapun waktu dan tempat dilakukannya praktikum ini adalah:
Hari/tanggal    : Sabtu/ 18 Mei 2013
Waktu             : 08.00-10.00 WITA
Tempat            : Laboraturium Zoologi Lantai II
                          Fakultas Sains dan Teknologi
                          Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
                          Samata-Gowa
2. Alat dan Bahan
a. Alat
                 Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu cawan petri, mikroskop stereo dan biasa, dan pinset/pipet.
b. Bahan
            Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu air suling, larutan formalin 4% + gliserol 5% perbandingan 4 : 1, dan siput (Limnea sp) yang diambil dari sawah atau kolam.
3. Cara Kerja
            Adapun cara kerja pada percobaan ini yaitu :
1. Pengamatan larva Trematoda
a. Meletakkan siput pada cawan petri yang berisi air suling sebanyak    sepertiganya.
b. Memecahkan cangkang siput dengan pinset, kemudian menggoyangkan  cawan untuk melepaskan siput.
c.  Mengamati larva redia ataupun cercaria. Membedakan kedua larva dari pergerakannya serta anatominya. Jika suatu siput mengandung larva redia, maka pada umunya akan juga menemukan larva cercaria dalam bentuk yang berbeda-beda. Melihat larva redia berupa titik-titik putih yang bergerak cepat (menggunakan mikroskop stereo jika sulit mengamati), sebaliknya larva cercaria bentuknya lebih besar, panjang dan gerakannya sangat lambat. Mengambil larva-larva tersebut dan menempatkan pada objek gelas untuk mengamati pada mikroskop biasa.
d. Jika pergerakan larva cepat sehingga sulit mengamati, sebaiknya melakukan pengamatan dengan menggunakan larutan formalin+gliserol.
e. Menggambar dan menuliskan klasifikasinya.
2. Pengamatan Fasciola hepatica
a. Memperoleh Fasciola hepatica pada tempat pemotongan sapi,pada bagian hati atau saluran empedu, disimpan sementara pada larutan NaCl.
b. Mengamati dengan menggunakan mikroskop atau jika memungkinkan dengan lup. Pengamatan anatomi harus menggunakan preparat awetan yang sudah diwarnai dan dijernihkan.
c. Menggambar pada posisi sebelah menyebelah dari cacing tersebut (bilateral simetris).
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
    a. Fasciola hepatica
                                                                                                       Keterangan:
                                                                                                       1. Mulut
                                                                                                       2. Pengisap
                                                                                                       3. Usus
                                                                                                       4. Uterus
                                                                                                       5. Ovarium
                                                                                                       6. Kelenjar telur
                                                                                                       7. Vas deferens
                                                                                                       8. Penis
                                                                                                       9. Pengisap                                                                                                                 interior
     b. Daur hidup Fasciola hepatica (larva redia dan serkaria)






        Larva Redia                        Larva Serkaria
                                                                                                        Keterangan:
                                                                                                       1. Usus serkaria
                                                                                                       2. Lubang usus
                                                                                                       3. Faring
                                                                                                       4. Mulut
                                                                                                       5. Pengisap                                                                                                                 ventral


2. Pembahasan
a. Morfologi
Morfologi Fasciola hepatica jantan berukuran sekitar 10-30 cm, sedangkan betina sekitar 22-35 cm. Pada Fasciola hepatica jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior).Pada Fasciola hepatica betina, sepertiga depan terdapat bagian yg disebut cincin atau gelang kopulasi. bentuknya pipih (seperti daun), susunan tubuh triploblastik yang terdiri dari lapisan ektoderm, endoderm, dan mesoderm. Sistem pencernaan makanan sederhana. Sistem ekskresi hanya saluran utama yang mempunyai lubang pembuangan ke luar.
b.  Anatomi
Fasciola hepatica ini tidak mempunyai anus dan alat ekskresinya berupa sel api. Cacing ini bersifat hemaprodit, berkembang biak dengan cara pembuahan sendiri atau silang, Pada bagian depan terdapat mulut meruncing yang dikelilingi oleh alat pengisap, dan ada sebuah alat pengisap yang terdapat di sebelah ventral sedikit di belakang mulut, juga terdapat alat kelamin. Bagian tubuhnya ditutupi oleh sisik kecil dari kutikula sebagai pelindung tubuhnya dan membantu saat bergerak.  Fasciola hepatica dewasa hidup pada usus manusia. Parasit ini juga memiliki khas bercabang organ reproduksi.  Hati Fasciola hepatica juga memiliki pengisap oral yang digunakan untuk secara efektif jangkar parasit dalam memotong empedu.
c. Habitat
Fasciola hepatica  parasit hidup pada jaringan atau cairan tubuh inangnya. Fasciola hepatica yang parasit hidup di dalam tubuh inangnya (endoparasit) pada siput air, sapi, babi, atau manusia.
d. Sistem Organ
     a. Sistem Respirasi
       Cacing hati (Fasciola hepatica) tidak memiliki alat pernafasan khusus maka ia menggunakan permukaan tubuh / kulit-nya sebagai tempat pertukaran O2 atau  CO2.
              b. Sistem Sirkulasi
System sirkulasi cacing hati (Fasciola hepatika), dengan darah yang terdiri atas bagian cair yang disebut plasma, dan sel-sel darah atau korpuskula.
              c. Sistem Ekskresi
Cacing hati (Fasciola hepatica) memiliki alat ekskresi khusus yang terdapat pada setiap segmen tubuhnya. Alat ekskresi ini dinamakan nefridium. Alat ini disebut nefrostom. Nefrostom berfungsi sebagai penarik cairan tubuh dari satu segmen kesegmen lainnya. Sementara, sisa metabolisme akan dikeluarkan melalui sebuah lubang yang disebut nefridiopori. Saat silia pada nefrostom bergetar, cairan tubuh dari segmen di sebelahnya akan mengalir ke dalam nefridium. Pada nefridum ini, zat berguna seperti glukosa dan ion-ion diserap oleh darah untuk dialirkan melalui pembuluh kapiler. Sedangkan zat sisa seperti air, senyawa nitrogen, dan garam yang tidak berguna oleh tubuh dikeluarkan melalui nefridiopori.
d. Sistem Reproduksi
Alat reproduksi pada Fasciola Hepatica jantan memiliki sepasang testis dan penis.
e. Sistem Pencernaan
Cacing hati memiliki alat pencernaan tetapi tidak lengkap. Susunan system pencernaan makanan hanya terdiri dari mulut, faring, esophagus dan intestine. Lubang mulut tertutup oleh alat pengisap oral (sucker). Lubang mulut berlanjut dengan rongga mulut yang berbentuk corong. Rongga mulut berlanjut pada faring yang berdinding tebal dengan lumen sempit. Dinding faring tersusun oleh otot melingkar. Faring berfungsi untuk mengisap makanan. Faring mempunyai kelenjar faringeal. Esophagus menghubungkan faring dengan intestine. Intestine bercabang dua ke kiri dan ke kanan yang membentang kea rah posterior, dan sejajar. Masing-masing cabang bercabang lagi ke arah lateralmembentuk kantung-kantung seka atau divertikula yang buntu. Cabang-cabang ini mebagi makanan ke seluruh tubuh.
f. Klasifikasi      
Adapun klasifikasi dari Fasciola hepatica adalah sebagai berikut :      
             Kingdom        : Animalia
             Phylum           : Platyhelminthes
             Class               : Trematoda
             Ordo               : Echinostomida
             Family            : Fasciolidae
             Genus             : Fasciola
             Spesies           : Fasciola hepatica (Mukayat, 1989: 85).
E. Kesimpulan dan Saran
     1. Kesimpulan
                      Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Larva  tremtoda yang dapat kami amati adalah Fasciola hepatica. 
2.  Fasicola hepatica pada cacing jantan ditemukan spikula atau bagian seperti untaian rambut di ujung ekornya (posterior). Pada cacing betina, sepertiga depan terdapat bagian yg disebut cincin atau gelang kopulasi. Cacing dewasa hidup pada usus manusia. Parasit ini juga memiliki khas bercabang organ reproduksi.  Hati Fasciola hepatica juga memiliki pengisap oral yang digunakan untuk secara efektif jangkar parasit.

2. Saran
                 Adapun saran yang dapat saya berikan setelah melakukan praktikum ini adalah sebaiknya untuk bahan Fasciola hepatica ini kita menggunakan preparat awetan saja supaya tidak perlu mencari pada siput (Lymnea sp) seperti keadaan pada praktikum ini walaupun siput sudah ada tetapi Fasciola hepatica tidak ditemukan.




DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjojo, Mukayat Djarubito. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga, 1989.
Hala, Yusminah. Biologi Umum 2. Makassar: UIN Alauddin Press, 2007.
Jasin, Maskoeri.  Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya, 1992.
Post a Comment