## MOHON MENGKLIK SALAH SATU KONTEN IKLAN YANG MUNCUL DI BLOG KAMI SEBAGAI BENTUK DONASI PENGUJUNG YANG AKAN DIGUNAKAN UNTUK MAINTENANCE BLOG KAMI ##

Saturday, 5 August 2017

SARJANA yang TERBAIK adalah SARJANA yang PULANG ke KAMPUNG HALAMAN dan MEMBUAT PERUBAHAN

Setelah lulus dan menyandang sarjana, banyak yang beranggapan bahwa merantau adalah sebaik-baiknya pilihan. Harapan mendapatkan karir yang mapan di kota-kota besar membuat kita mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Padahal, seorang sarjana tentu bisa memilih keputusan yang berbeda dari orang-orang pada umumnya, seperti pulang ke kampung halaman misalnya. Meskipun mendengar pernyataan ini mungkin akan membuat kita mengerutkan dahi, tapi inilah alasan-alasan yang akan meyakinkan kita. Bahwa SARJANA yang PULANG ke KAMPUNG HALAMAN dan MEMBUAT PERUBAHAN adalah yang TERBAIK.
Ini adalah beberapa alasan mengapa Sarjana memilih untuk tidak kembali ke kampung halaman alias merantau:
1. Tanah perantauan ibarat satu-satunya tujuan. Tak bisa dipungkiri, sarjana yang memilih pergi memang rata-rata berhasil meraih kesuksesan.
2. Di perantauan kita akan menemukan hal-hal baru. Keluar dari zona nyaman berarti menempa diri kita.

Memang tak bisa dipungkiri, perantauan membuat kita keluar dari zona nyaman. Menjauh dari bantuan keluarga dan segala yang sudah kita punya di tempat asal. Tapi, tinggal di perantauan juga bukannya tanpa hambatan. Toh, harapan-harapan yang kita punya juga belum tentu jadi kenyataan.
Kita tentu berharap bisa mendapat pekerjaan yang mapan di perantauan. Sayangnya, hal itu belum tentu jadi kenyataan karena banyaknya pesaing yang juga menginginkan hal yang sama dengan kita. Yang pasti, ketatnya persaingan untuk mendapat pekerjaan adalah yang tak mungkin kita hindari. Selain biaya hidup yang tinggi, kehilangan waktu bersama orang-orang yang kita cintai misalnya keluarga juga jadi resikonya.
Dan jauh dari hingar-bingar kota perantauan, ada KAMPUNG HALAMAN yang sebenarny BERHARAP DIPERHATIKAN.
Kita mungkin tak seberapa perhatian dengan kondisi di tempat asal kita. Bahwa ada sekolah-sekolah yang sebenarnya kekurangan tenaga pengajar, dan ada anak-anak yang tak mendapat fasilitas belajar mengajar yang layak dan ada wadah berproses lainnya serta bisa berpartisipasi dalam membangun desa sampai memajukan desa kita dengan terlibat dalam setiap pengambilan keputusan pembangunan desa.
Di desa atau kampung tempat asal kita, mungkin ada pula sekelompok warga yang menganggur. Tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya karena di PHK dan tak punya kemampuan untuk berwirausaha. Ada pula kelompok petani yang mungkin sering gagal panen karena minimnya pengetahuan.
Nah, dalam kondisi-kondisi itulah sebenarnya para sarjana seharusnya mengambil peran. Sarjana pendidikan, pertanian, ekonomi, atau apapun jurusan yang kamu ambil pastilah bisa memberi kontribusi. Ilmu yang didapat di bangku kuliah sepatutnya bisa benar-benar berguna dalam kehidupan yang nyata.
Kampung halaman selayaknya tak begitu saja ditinggalkan. Justru para sarjana sepatutnya pulang dan membuat perubahan.
Yup! Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh, yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia termasuk mengubah kampung halaman kita menjadi lebih maju. Sebagai sarjana tentu kamu memiliki bekal pendidikan itu, yang rasanya sayang sekali jika tak bisa membawa manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.
Terlebih, alangkah baiknya jika arus urbanisasi semakin dikurangi. Jangan biarkan anak-anak muda, khususnya yang tak memiliki ketrampilan dibiarkan merantau dan terlunta-lunta di kota. Orang-orang harus percaya bahwa kampung halaman pastilah punya potensi menyejahterakan warganya selama kita tahu cara mengelolanya.
Anggapan bahwa “pulang ke kampung halaman adalah sesuatu yang tabu” itu keliru. Justru KITA yang MEMILIH PULANG adalah SEORANG PEMBERANI yang tak hanya memikirkan diri sendiri.
Tak bisa dipungkiri, sarjana yang memilih pulang ke kampung halaman seringkali justru mendapat penilaian yang negatif. Dianggap tidak mampu berjuang, bahkan lebih parah lagi yaitu dianggap sudah gagal di tanah perantauan. Akibatnya, tak sedikit sarjana yang enggan pulang lantaran anggapan-anggapan miring tersebut.
Tapi bukankah anggapan semacam itu justru sebenarnya keliru? Tidak ada jaminan bahwa sarjana yang merantau itu sukses dan yang memilih kembali ke kampung halaman itu berarti sudah gagal.
Justru KITA yang BERANI PULANG adalah SARJANA-SARJANA TERBAIK. Kita yang berani melawan anggapan umum bahwa kesuksesan hanya bisa didapat di perantauan. Kita yang sebenarnya sudah berbesar hati lantaran tak mau memikirkan diri sendiri, tapi juga memikirkan tanah kelahiran yang kita cintai.
Tapi sekali lagi, pilihan tetap ada di tangan kita. Mantap merantau atau kembali kampung halaman itu mutlak pilihan kita. Yang pasti, berusahalah untuk selalu membawa kebaikan dan manfaat dimana pun tempat yang kita tuju. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Merantau atau pulang ke kampung halaman, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sebagai seorang individu, jelas kita berhak menentukan pilihan kita sendiri. Toh, memilih merantau juga bukan berarti kitavtidak bisa memberi kontribusi pada tanah kelahiran kita sendiri.
Ada banyak cara supaya kita bisa ikut serta memajukan desa atau kampung halaman kita tanpa harus menetap di sana. Tapi jika “PULANG” adalah yang menjadi PANGGILAN HATI, tentu kamu pun tak perlu ragu. Yakinlah bahwa kesuksesan itu akan datang selama kamu punya niat dan tekad untuk berbuat kebaikan.
Jangan bimbang menentukan masa depan. Setelah lulus dan menyandang gelar sarjana, mungkin keputusan terbaik adalah pulang untuk membuat perubahan dan membangun kampung halaman. 
DAN INI ADALAH PILIHANKU !!!


Post a Comment