## MOHON MENGKLIK SALAH SATU KONTEN IKLAN YANG MUNCUL DI BLOG KAMI SEBAGAI BENTUK DONASI PENGUJUNG YANG AKAN DIGUNAKAN UNTUK MAINTENANCE BLOG KAMI ##

Friday, 4 August 2017

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM
EKOLOGI HEWAN
(KOMPETISI INTRA SPESIFIK)
 









Disusun oleh:
       NAMA                :    LASINRANG ADITIA
       NIM                     :    60300112034
       KELAS               :    BIOLOGI A
       KELOMPOK     :    IV (Empat)

LABORATORIUM  BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2014



LEMBAR PENGESAHAN
            Laporan lengkap praktikum Fisiologi Hewan dengan judul “Kompetisi Intra Spesifik” yang disusun oleh:

Nama              : Lasinrang Aditia
Nim                 : 60300112034
Kelas               : Biologi A
Kelmpok         : IV (empat)

            Telah diperiksa oleh Kordinator Asisten / Asisten dan dinyatakan diterima.

Samata-Gowa,  April 2014

    Kordinator Asisten                                                                          Asisten




(Rusmadi Rukmana S.Si)                                                      (Megawati Bohari, S.Si)




Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab



(Suhaenni S.Si. M.Pd)


A. Tujuan Praktikum
            Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat mempelajari kompetisi secara langsung dengan analisis pengaruh kerapatan populasi pada lalat buah (Drosophyla melanogaster) yang ditanama pada medium pisang : tape  singkong : gula merah dengan perbandingan 7 : 2 : 1.
B. Dasar Teori
Apabila ditinjau dari segi proses alam, makhluk hidup selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi yang terjadi antar setiap organisme dengan lingkungannya merupakan proses yang tidak sederhana melainkan suatu proses yang kompleks. Karena di dalam lingkungan hidup terdapat banyak komponen yang disebut komponen lingkungan. Berdasarkan konsep dasar pengetahuan ekologi, komponen lingkungan yang dimaksud tersebut juga dinamakan komponen ekologi karena setiap komponen lingkungan tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dan saling memengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung (Sigen, 2014).
Organisme hidup membentuk satu kumpulan individu-individu yang menempati sustu tempat tertentu, sehingga antar organisme dapat terjadi interaksi. Interaksi-interaksi yang terjadi dapat merupakan interaksi antar individu dari spesies yang sama, dapat juga merupakan interaksi antar individu dari spesies yang berbeda. Interaksi yang terjadi antar spesies anggota populasi akan mempengaruhi terhadap kondisi populasi mengingat keaktifan atau tindakan individu mempengaruhi kecepatan pertimbuhan ataupun kehidupan populasi. Setiap anggota populasi dapat memakan anggota populasi yang lainnya, bersaing terhadap makanan, mengeluarkan kotoran yang merugikan lainnya, dapat saling membunuh, dan interaksi tersebut dapat searah ataupun dua arah (timbal balik) (Setiadi, 1989).
Persaingan terjadi ketika organisme baik dari spesies yang sama maupun dari spesies yang berbeda menggunakan sumber daya alam. Di dalam menggunakan sumber daya alam, tiap-tiap organisme yang bersaing akan memperebutkan sesuatu yang diperlukan untuk hidup dan pertumbuhannya. Persaingan yang dilakukan organisme-organisme dapat memperebutkan kebutuhan ruang (tempat), makanan, unsur hara, air, sinar, udara, atau faktor-faktor ekologi lainnya sebagai sumber daya yang dibutuhkan oleh tiap-tiap organisme untuk hidup dan pertumbuhannya (Indriyanto, 2006).
Dalam artian yang luas persaingan ditunjukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Persaingan ini dapat terjadi antara indifidu yang sejenis ataupun antara indifidu yang berbeda jenis. Persaingan yang terjadi antara individu yang sejenis disebut dengan persaingan intraspesifik sedangkan persaingan yang terjadi antara individu yang berbeda jenisnya disebut sebagai persaingan interspesifik. Persaingan yang terjadi antara organisme-organisme tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan. Setiap organisme yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya alam menjadi terbatas jumlahnya. Yang jadi penyebab terjadinya persaingan antara lain makanan atau zat hara, sinar matahari, dan lain–lain. Faktor-fator intraspesifik merupakan mekanisme interaksi dari dalam individu organisme yang turut mengendalikan kelimpahan populasi. Pada hakikatnya mekanisme intraspesifik yang di maksud merupakan perubahan biologi yang berlangsung dari waktu ke waktu (Wirakusumah, 2003).
C. Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut:
Hari/tanggal            : Selasa/13 Mei 2014
Waktu                     : 08.00-10.00 WITA
Tempat                   : Laboraturium Botani Lantai I
                                 Fakultas Sains dan Teknologi
                                 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
                             Samata-Gowa
D. Alat dan Bahan
1. Alat
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu alat tulis menulis, botol jam (botol bekas selai), loupe, timbangan, blender, selang plastik (penyedot), kuas kecil (kuas lukis), dan cawan petri.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu pisang raja, gula merah, baygon cair, yeast (fermipan), lalat buah (Drosophila sp), agar-agar, dan label.
E. Cara Kerja
Adapun cara kerja pada percobaan ini yaitu sebagai berikut:
1.    Cara pembuatan medium
a.    Mengupas pisang raja kemudian menimbang sebanyak 700 gram.
b.    Menimbang pula gula merah sebanyak 100 gram.
c.    Menghancurkan pisang hingga halus dengan menggunakan blender, tambahkan air secukupnya.
d.   Mencampurkan ke dalam panci adonan pisang, gula merah dan agar-agar.
e.    Masak campuran tersebut hingga kadar airnya berkurang (15 menit setelah mendidih) sambil mengaduknya.
f.     Memasukkan medium yang telah dingin ke dalam botol selai, sesuai kegiatan (penanaman) dan menyimpan lebihnya di dalam kulkas.
g.    Menaburi beberapa butir yeast ke atas medium di dalam botol selai dan meletakkan pupasi di atasnya, serta Menutup dengan sumbat busa.
2.    Stocking  
a.    Menyiapkan botol-botol selai yang telah berisi medium.
b.    Memasukkan Drosophyla melanogaster jantan dan betina dengan perbandingan 2:2, 2:4, dan 2:8 dengan masing-masing perbandingan.
c.    Membiarkan biakan selama 2 minggu, sehingga memperoleh generasi baru dengan cacah yang melimpah.
3.    Labeling
a.    Menyiapkan medium dalam botol-botol jam sebagaimana pada saat stocking.
b.    Memberi label pada masing-masing botol: 2:2, 2:4, dan 2:8. Melakukan 3 ulangan pada masing-masing perbandingan sehingga masing-masing kelompok menyiapkan 9 botol.
c.    Melakukan pengamatan sebanyak 5 kali, maka tiap kelompok harus menyiapkan 45 botol.
4.    Penanaman
a.    Menyiapkan biakan stocking yang telah berumur 2 minggu.
b.    Membius Drosophyla sp dengan cara menggunakan kapas yang telah dibubuhi dengan DDT atau eter.
c.    Melakukan sexing dengan cara memisahkan Drosphyla sp jantan dan betina. Melakukan pengamatan dengan hati-hati menggunakan loupe.
d.   Melakukan penanaman pada botol: yang telah diberi label sesuai dengan perbandingan (sex ratio) pada label tersebut yang dilakukan pada hari ke 12, 14, 16, 18, dan 20.
e.    Memelihara biakan tersebut hingga sampai waktu pengamatan. Menghindari penyimpanan dari serangga lain seperti semut dan lain-lain.
5.    Pengamatan
a.    Melakukan pengamatan populasi Drosophyla pada umur biakan ke 12 hari, melakukan dengan cara menghitung cacah Drosophyla jantan dan betina sebagai berikut:
Pengamatan Ke-
Hari Ke-
I
12
II
14
III
16
IV
18
V
20
b.    Melakukan pengamatan dengan terlebih dahulu membius lalat buah dengan DDT yang dibubuhi dikapas.
c.    Merekam hasil pengamatan dalam tabel pengamatan.
F. Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut ini:
Pengamatan ke-
(I) 10 Mei 2014
(II) 14 Mei 2014
Sex Ratio
Jantan
Betina
Jantan
Betina
2:2
34
25
27
32
2:4
45
58
60
42
2:8
34
49
53
71
Rata-rata
31
44
47
48

G. Pembahasan
Adapun pembahasan pada percobaan ini adalah kompetisi merupakan persaingan terhadap antar makhluk hidup. Persaingan sendiri akan dapat menghasilkan pemenang, pemenang itu pun yang dapat meneruskan kelangsungan hidupnya. Persaingan sesama jenis pada umumnya terjadi lebih awal dan menimbulkan pengaruh yang lebih buruk dibandingkan persaingan yang terjadi antar jenis yang berbeda. Persaingan antarjenis dapat berakibat dalam penyesuaian keseimbangan dua jenis, atau dapat berakibat dalam penggantian populasi jenis satu dengan yang lainnya atau memaksanya yang satunya itu untuk menempati tempat lain, tidak perduli apapun yang menjadi dasar persaingannya itu.
Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secara merugikan. Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif. Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi menjadi dua, yaitu kompetisi sumber daya (exploitative competition), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama sumber daya yang terbatas Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individu lain.
Pada pengamatan ini, hasil yang diperoleh setelah melakukan pengamatan selama 2 minggu adalah untuk pengamatan pertama yang dilakukan pada tanggal 10 Mei 2014 adalah untuk perbandingan 2:2 diperoleh jantan 34 ekor dan betina 25 ekor. Untuk perbandingan 2:4, diperoleh jantan sebanyak 45 ekor dan betina sebanyak 58 ekor, dan untuk perbandingan 2:8 didapatkan jantan sebanyak 34 ekor dan betina sebanyak 49 ekor. Adapun hasil rata-rata dari pengamatan pertama adalah jantan 31 dan betina 44. Sedangkan pengamatan kedua dilakukan pada tanggal 14 Mei 2014 dimana hasil yang didapatkan untuk perbandingan 2:2 adalah jantan 27 ekor dan betina 32 ekor. Untuk perbandingan 2:4, diperoleh hasil dimana jantan adalah 60 ekor dan betina adalah 42 ekor. Untuk perbandingan 2:8 diperoleh jantan sebanyak 53 ekor dan betina sebanayak 71 ekor, sehingga dari semua perbandingan pada pengamatan kedua didapatkan hasil rata-rata untuk jantan adalah 47 dan betina adalah 48.
H. Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada percobaan ini adalah kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumber daya yang bersifat terbatas. Persaingan yang dilakukan organisme-organisme dapat memperebutkan kebutuhan ruang (tempat), makanan, unsur hara, air, sinar, udara, agen penyerbukan, agen dispersal, atau faktor-faktor ekologi lainnya sebagai sumber daya yang dibutuhkan oleh tiap-tiap organisme untuk hidup dan pertumbuhannya. Rata-rata hasil yang didapatkan pada pengamatan pertama adalah jantan 31 dan betina 44, sedangkan untuk pengamatan kedua adalah jantan 47 dan betina 48.
DAFTAR PUSTAKA
Indriyanto. Ekologi Hutan. Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Setiadi, Dede. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 1989.
Sigen, Afief. 2010. Blog Afief. Ekologi Persaingan Intra dan Interspesifik. http://www.gado-gadorujak-i-power-blog.com. (28 April 2014).

Wirakusumah. Dasar-dasar Ekologi bagi populasi dan Komunitas. Jakarta: UI-Press, 2003.
Post a Comment