## MOHON MENGKLIK SALAH SATU KONTEN IKLAN YANG MUNCUL DI BLOG KAMI SEBAGAI BENTUK DONASI PENGUJUNG YANG AKAN DIGUNAKAN UNTUK MAINTENANCE BLOG KAMI ##

Friday, 10 April 2015

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH (THALLOPHYTA)



LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM
TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH
(THALLOPHYTA)
 








Disusun oleh:
      NAMA                  :    LASINRANG ADITIA
      NIM                      :    60300112034
      KELAS                 :    BIOLOGI A
      KELOMPOK       :    III (Tiga)

LABORATORIUM  BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2013
LEMBAR PENGESAHAN

            Laporan lengkap praktikum Taksonomi Tumbuhan Rendah dengan judul “Thallophyta” yang disusun oleh:

Nama               : Lasinrang Aditia
Nim                 : 60300112034
Kelas               : Biologi A
Kelmpok          : III (Tiga)

            Telah diperiksa oleh Kordinator Asisten / Asisten dan dinyatakan diterima.

 Samata-Gowa, 24 Desember 2013

Kordinator Asisten                                                                                Asisten




  ( Nurfitri Arfani )                                                                        (Nurapni Hidayah)
      6030111046                                                                              60300111045


Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab




(Hj. Asrianty Mas’ud, S.Si, M.Pd)
A. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui ciri-ciri tumbuhan yang tergolong thallophyta.
2. Untuk mengetahui perbedaan antara sub divisi algae, fungi dan lichens.
3. Untuk mengetahui contoh tumbuhan yang tergolong thallophyta yang meliputi kelompok algae, fungi dan lichens.
B. Dasar Teori
Thallophyta merupakan kelompok tumbuhan yang mempunyai ciri utama yaitu tubuh berbentuk talus. Tumbuhan talus merupakan tumbuhan yang struktur tubuhnya masih belum bisa dibedakan antara akar,batang dan daun. Sedangkan tumbuhan yang sudah dapat dibedakan antara akar,batang dan daun disebut dengan tumbuhan kormus (Fitrah, 2011).
Struktur tubuh dari divisi thallophyta, memiliki tubuh berbentuk thallus. Thallus artinya belum dapat dibedakan antara akar, batang dan daun. Tubuh tumbuhan yang telah dapat dibedakan dalam ke-3 bagian tersebut dinamakan kormus (Cormophyta). Tubuh yang berupa tallus ini mempunyai struktur dan bentuk dengan variasi yang sangat besar, dari yang terdiri atas satu sel berbentuk bulat sampai yang terdiri dari banyak sel dengan bentuk yang kadang-kadang telah mirip dengan kormus pada  tumbuhan tingkat tinggi. Sel yang menyusun tubuh telah memperlihatkan differensiasi yang jelas, dalam protoplasnya tampak nyata satu inti atau lebih dan plastid dengan bentuk yang beraneka ragam (Gembong, 1989).
Tumbuhan ganggang atau alga merupakan tumbuhan thallus yang hidup di air, baik air tawar maupun air laut. Yang hidup di air ada yang bergerak aktif dan ada yang tidak. Jenis-jenis yang hidup di air, terutama tubuhnya bersel tunggal dan dapat bergerak aktif mempunyai alat gerak untuk bergerak berupa bulu-bulu cambuk atau flagel. Flagel pada pada gangggang berjumlah satu atau lebih. Jika jumlahnya lebih dari satu, flagel itu dikatakan isokon bila sama panjangnya, heterokon bila panjangnya tidak sama. Flagel yang menurut alat gerak terdapat dibelakang disebut flagel yang opistokom. Selain daripada itu, pada ganggang spora dan gametnya pun lazimnya dapat bergerak aktif dengan perantaraan flagel pula. Spora yang dapat bergerak aktif itu disebut zoospore atau kembara (Gembong, 1989).
Fungi memiiki ciri umum jamur yaitu mempunyai klorofil sehingga tidak dapat berfotosintesis. Jamur memiliki asam inti berupa ARN dan ADN. Dindingnya terdiri atas kitin dan selulosa. Jamur ada yang bersel satu dan ada yang bersel banyak. Jamur juga bersifat heterotrof  yang mendapatkan nutriennya melalui penyerapan (absorption). Dalam cara nutrisi ini, molekul-molekul organik kecil  diserap dari medium sekitarnya. Fungi akan mencerna makanan di luar tubuhnya dengan cara mensekresikan enzim-enzim hidrolitik yang sangat ampuh ke dalam makanan tersebut. Fungi hidup sebagai saprofit atau parasit, ada yang dalam air, tetapi lebih banyak yang hidup didaratan serta pada tempat yang lembab. Sedangkan di dalam laut jarang sekali didapatkan. Kebanyakan jamur yang hidup saprofit dapat dipelihara pada substrat buatan (Muliayanti, 2009).
Lichenes atau lumut kerak memiliki ciri yaitu memiliki klorofil sehingga dapat berfotosintesis dan dapat menghasilkan makanan sendiri (autotrof). Hidupnya menempel pada tumbuhan lain (epipit) dan pada tempat yang lembab (higrofit). Lumut kerak atau lichenes merupakan simbiosis mutualisme dari algae dan jamur (Prowel, 2010).
C. Metode Praktikum
1. Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilakukannya praktikum ini adalah:
Hari/tanggal          : Selasa/17 Desember 2013
Waktu                  : 08.00-10.00 WITA
Tempat                 : Laboratorium Zoologi Lantai II
                              Fakultas Sains dan Teknologi
                              Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
                              Samata-Gowa
2. Alat dan Bahan
a. Alat
               Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu mikroskop, deck glass, pipet tetes, pensil warna, dan alat tulis menulis.
b. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu untuk pengamatan alga uniseluler: air genangan berwarna hijau, air got, lendir pada tembok yang basah. Untuk pengamatan alga multiseluler: Sargassum sp, Turbinaria sp, Coulerpa sp, Halimeda sp, Euchema sp. Untuk pengamatan jamur makroskopis: Jamur Kuping (Auricularia polytricha), Jamur Merang (Volvariella volvaceae), Jamur Tiram (Plearatus ostreatus), Jamur Shitake (Lentinula edodes). Untuk pengamatan jamur mikroskopis: Air tape, tongkol jagung yang berjamur, roti berjamur, nasi basi. Pada pengamatan Lichenes: Parmelia acetabulum, aquades, dan tissue.
3. Cara Kerja
Adapun cara kerja pada percobaan ini yaitu :
a. Pengamatan Alga
1. Alga uniseluler
a. Mengamati sampel yang tersedia dengan menggunakan mikroskop
b. Menggambar spesies yang ditemukan.
c. Memberikan warna dan keterangan pada gambar.
2. Alga multiseluler
a. Mengamati bagian-bagian morfologi bahan yang tersedia.
b. Menggambar serta memberikan warna dan keterangan.
b.   Pengamatan Jamur
1. Jamur makroskopis
a. Mengamati bagian morfologi setiap jamur yang disiapkan.
b. Menggambar jamur-jamur tersebut.
c. Memberikan keterangan pada gambar dan memberi warna.
2. Jamur mikroskopis
a. Mengambil sampel jamur pada roti, nasi basi dan tongkol jagung yang berjamur dengan menggunakan pinset.
b. Meletakkan sampel pada objek glass kemudian meneteskan dengan air aquadest lalu menutupnya dengan deck glass.
c. Untuk bahan yang berair seperti tape dapat menggunakan pipet tetes lalu meneteskan pada objek glass kemudian menutupnya dengan deck glass.
d. Mengamati dengan menggunakan mikroskop
e. Menggambar hasil pengamatan dan memberi warna serta keterangan.
c. Pengamatan Lichenes
1. Mengamati setiap bagian dari bahan yang tersedia.
2. Menggambar, memwarnai dan memberikan keterangan.
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
a. Pengamatan Alga
1. Pengamatan Alga Uniseluler
a. Air genangan hijau (Euglena viridis)
Keterangan:
1. Nukleus
2. Nukleoulus
3. Vakuola kontraktil
4. Kloroplas
5. Stigma
6. Flagel




b. Air got (Dinobryon acuminatum)
Keterangan:
1. Flagel
2. Lorica
3. Stigma
4. Kloroplas



c. Lendir pada tembok basah (Euglena viridis)
Keterangan:
1. Nukleus
2. Nukleoulus
3. Vakuola kontraktil
4. Kloroplas
5. Stigma
6. Flagel

2. Pengamatan Alga Multiseluler
a. Sargassum sp
Keterangan:
1. Helai (Blade)
2. Vesicle
3. Stipe
4. Pegangan
5. Thallus



b. Turbinaria sp
Keterangan:
1. Stipe
2. Receptacle
3. Pegangan
4. Thallus




c. Coulerpa sp
Keterangan:
1. Vesicle
2. Stipe
3. Axis
4. Pegangan (Holdfast)




d. Halimeda sp
Keterangan:
1. Thallus
2. Stipe
3. Holdfast




e. Euchema sp
Keterangan:
1. Helai (Blade)
2. Stipe
3. Pegangan
4. Thallus




b. Pengamatan Jamur
1. Pengamatan Jamur Makroskopis
a. Jamur Kuping (Auricularia polytricha)
Keterangan:
1. Filcus
2. Porus
3. Anula
4. Rhizoid



b. Jamur Merang (Volvariella volvaceae)
Keterangan:
1. Filcus
2. Miselium
3. Anula
4. Stipe
5. Hifa

c. Jamur Tiram (Plearatus ostreatus)
Keterangan:
1. Tudung
2. Lamela
3. Stipe
4. Hifa




d. Jamur Shitake (Lentinula edodes)
Keterangan:
1. Tudung
2. Miselium
3. Stipe
4. Rhizoid




2. Pengamatan Jamur Mikroskopis
a. Air tape (Saccharomyces serevisiae)
Keterangan:
1. Tunas (Budding)
2. Sel induk




b. Tongkol Jagung yang berjamur (Aspergillus oryzae)
Keterangan:
1. Sporangium
2. Spora
3. Rhizoid
4. Hifa




c. Roti berjamur (Rhizopus stoloniferus)
Keterangan:
1. Sporangium
2. Spora
3. Sporangiofor
4. Hifa




d. Nasi basi (Rhizopus oryzae)
Keterangan:
1. Sporangium
2. Spora
3. Sporangiofor
4. Hifa



c. Pengamatan Lichenes
1. Lumut kerak (Parmelia acetabulum)
Keterangan:
1. Substrat
2. Thallus
3. Holdfast






     2. Pembahasan
a. Pengamatan Alga
1. Pengamatan Alga Uniseluler
a. Air genangan hijau (Euglena viridis)
1. Morfologi
Euglena viridis memiliki  tubuh yang menyerupai gelendong dan diselimuti oleh pelikel Euglena viridis. Ukuran tubuhnya 35 – 60 mikron dimana ujung tubuhnya meruncing dengan satu bulu cambuk yang berfungsi sebagi alat gerak. Flagel terbentuk di sisi reservoir Hewan ini memilki stigma (bintik mata berwarna merah) yang digunakan untuk membedakan gelap dan terang.
                   2. Anatomi
Euglena viridis memiliki  tubuh secara anatomis yang menyerupai gelendong. Di dalam tubuhnya terdapat nukleus yang berfungsi sebagai pusat pengendali seluruh kegiatan aktivitasnya, mempunyai vakuola kontraktil, kloroplas sebagai tempat fotosintesis ketika sinar matahari mencukupi, terdapat pula stigma serta flagel yang berfungsi sebagai alat gerak Euglena viridis.
                   3. Sistem Reproduksi
Untuk reproduksi Euglena viridis berkembang biak secara vegetatif, yaitu dengan pembelahan biner secara membujur. Pembelahan ini dimulai dengan membelahnya nukleus menjadi dua. Selanjutnya flagel dan sitoplasma serta selaput sel juga terbagi menjadi dua. Akhirnya terbentuklah dua sel Euglena baru.
4. Habitat
Habitat Euglena viridis  air tawar dan melimpah di daerah ini, seperti di kolam peternakan atau parit saluran air, yang mengkonsumsi kotoran binatang.
5. Peranan
Sangat penting dalam ekosistem perairan karena merupakan produsen primer yaitu dapat sebagai penghasil oksigen, zat organik, dan sebagai flankton di dalam perairan.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Euglena viridis yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae
Divisi           : Thallophyta
Class           : Euglenoidea
Ordo           : Euglenales
Family         : Euglenaceae
Genus          : Euglena
Species       : Euglena Viridis (Plantamor.com, 2002)



b. Air got (Dinobryon acuminatum)
1. Morfologi
Dinobryon acuminatum mempunyai flagellata yang berfungsi sebagai alat gerak pada alga ini dan alga ini hidup berkoloni serta mempunyai silica. Sel bebas bergerak, bentuknya sesil atau epifitik. silinder, licin dengan dasarnya tajam dan buka di bahagian atas. Warnanya yang kuning keemasan berasal dari kandungan pigmen karotena dan xantofil yang banyak sehingga mendominasi warna kloroplasnya dan membuat klorofil tidak terlalu tampak.
                   2. Anatomi
Dinobryon acuminatum ini merupakan alga yang uniseluler dalam koloni. Sel-selnya dikelilingi oleh benda berbentuk seperti piala yang terdiri atas selulosa. Dinding selnya mengandung pektin dan selulosa. Kloroplas alga ini berbentuk cakram, pita, atau oval. Dinobryon acuminatum juga memiliki stigma atau bintik mata yang berfungsi sebagai alat indera penglihatan ketika kekurangancahaya di dalam air atau pada habitatnya.
                   3. Sistem Reproduksi
Ada dua cara perkembangbiakan dari Dinobryon acuminatum, yaitu seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Perkembangbiakan generatif melalui cara-cara konjugasi, isogami, anisogami, dan oogami. Perkembangbiakan vegetatif dilakukan melalui pembelahan sel, fragmentasi, pemisahan koloni, dan pembentukan spora (baik aplanospora maupun zoospora).
4. Habitat
Habitat dari Dinobryon acuminatum banyak terdapat di dalam air tawar dan biasanya terdapat pada air kotor serta tanah yang lembab.
5. Peranan
Peranan Dinobryon acuminatum sebagai produsen primer yaitu dapat sebagai penghasil oksigen, zat organik, dan sebagai flankton di dalam perairan.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Dinobryon acuminatum yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae
Divisi           : Ochrophyta
Class           : Chrysophyceae
Ordo           : Chromulinales
Family         : Dinobryaceae
Genus          : Dinobryon
Species       : Dinobryon acuminatum (Plantamor.com, 2002)
c. Lendir pada tembok basah (Euglena viridis)
1. Morfologi
Euglena viridis memiliki  tubuh yang menyerupai gelendong dan diselimuti oleh pelikel Euglena viridis. Ukuran tubuhnya 35 – 60 mikron dimana ujung tubuhnya meruncing dengan satu bulu cambuk yang berfungsi sebagi alat gerak. Flagel terbentuk di sisi reservoir Hewan ini memilki stigma (bintik mata berwarna merah) yang digunakan untuk membedakan gelap dan terang.
                   2. Anatomi
Euglena viridis memiliki  tubuh yang menyerupai gelendong. Di dalam tubuhnya terdapat nukleus yang berfungsi sebagai pusat pengendali, mempunyai vakuola kontraktil, kloroplas sebagai tempat fotosintesis ketika sinar matahari mencukupi, terdapat pula stigma serta flagel yang berfungsi sebagai alat gerak.
                   3. Sistem Reproduksi
Untuk reproduksi Euglena viridis berkembang biak secara vegetatif, yaitu dengan pembelahan biner secara membujur. Pembelahan ini dimulai dengan membelahnya nukleus menjadi dua. Selanjutnya flagel dan sitoplasma serta selaput sel juga terbagi menjadi dua. Akhirnya terbentuklah dua sel Euglena baru.
4. Habitat
Habitat Euglena viridis  air tawar dan melimpah di daerah ini, seperti di kolam peternakan atau parit saluran air, yang mengkonsumsi kotoran binatang.
5. Peranan
Sangat penting dalam ekosistem perairan karena merupakan produsen primer yaitu dapat sebagai penghasil oksigen, zat organik, dan sebagai flankton di dalam perairan.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Euglena viridis yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae
Divisi           : Thallophyta
Class           : Euglenoidea
Ordo           : Euglenales
Family         : Euglenaceae
Genus          : Euglena
Species       : Euglena Viridis (Plantamor.com, 2002)
2. Pengamatan Alga Multiseluler
a. Sargassum sp
1. Morfologi
Pada bagian morfologi memiliki warna pirang, memiliki thallus yang berbentuk pita ditengah-tengahnya dan diperkuat oleh suatu rusuk tengah. Terdapat gelembung yang berfungsi untuk memungkinkan tumbuhan terapung-apung bila terendam pada waktu pasang.
                   2. Anatomi
Mempunyai dinding sel yang dinding sebelah luar terdiri dari pektin dan dan dinding bagian dalamnya terdiri atas selulosa. Pada dasarnya  sel-selnya hanya memiliki satu inti.
                   3. Sistem Reproduksi
Perkembangbiakannya terjadi secara seksual (oogami). Struktur gametnya besar tidak dapat bergerak, sedangkan pada gamet jantannya kecil dan dapat bergerak. Zigot berkecambah langsung menjadi tumbuhan baru.
4. Habitat
Hidup dalam air, hidupnya sebagai bentos yang melekat pada suatu substrat dengan benang-benang pendek yang bercabang.
5. Peranan
Ganggang ini memiliki peran sebagai sumber nabati berbagai bahan kebutuhan manusia, misalnya dapat dijadikan sebagai bahan obat-obatan.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Sargassum sp yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae
Divisi           : Thallophyta
Class           : Phaeophyceae
Ordo           : Fucales
Family         : Fucaceae
Genus          : Sargassum
Species       : Sargassum sp (Plantamor.com, 2002)

b. Turbinaria sp
1. Morfologi
Pada bagian morfologi berbentuk tubuhnya seperti pohon, berwarna pirang (zat warna yang dominan fikosianin).
                   2. Anatomi
Pada dinding bagian dalam terdiri atas selulosa dan sebelah luar terdiri atas pektin serta selnya hanya terdiri atas satu sel.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara generatif dengan oogami, tidak ada perkembangbiakan secara vegetatif.
4. Habitat
Ganggang ini lebih dominan hidup di air laut, akan tetapi ada beberapa jenis mampu hidup di air tawar.
5. Peranan
Ganggang ini memiliki peran menhasilkan yodium dan adapula yang memiliki khasiat sebagai bahan obat-obatan untuk kebutuhan sehari-hari manusia.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Turbinaria sp yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae
Divisi           : Phaeophyta
Class           : Phaeophyceae
Ordo           : Fucales
Family         : Sargassaceae
Genus          : Turbinaria
Species       : Turbinaria sp (Plantamor.com, 2002)



c. Coulerpa sp
1. Morfologi
Pada bagian morfologi, tubuhnya terdiri atas bagian batang yang melata dan bercabang, percabangannya muncul tegak mirip daun atau cabang-cabang seperti tabung dengan bentuk yang beraneka ragam menempel pada substratnya.
                   2. Anatomi
memiliki alat-alat perkembangbiakan yang terpisah oleh sekat, sedangkan pada thallusnya tidak memiliki dinding atau sekat pemisah yang melintang, dan pada dinding yang menyelubungi itu massa plasma yang mengandung banyak inti dan kloroplas.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara vegetatif, ialah dengan cara fragmentasi. Perkembangbiakan seksual (anisogami) ialah seluruh tubuh tumbuhan mengeluarkan gamet lalu mati.
4. Habitat
Ganggang ini lebih dominan hidup di air laut.
5. Peranan
Ganggang ini memiliki peran sebagai sumber daya nabati bahan kebutuhan keseharian manusia.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Coulerpa sp yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae
Divisi           : Chlorophyta
Class           : Bryopsidophyceae
Ordo           : Bryopsidales
Family         : Brypsideae
Genus          : Coilerpa
Species       : Coulerpa sp (Plantamor.com, 2002)
d. Halimeda sp
1. Morfologi
Pada bagian morfologi, bentuknya menyerupai dengan kaktus serta membentuk lembaran-lembaran, berwarna hijau. Pada tallus terdapat konseptakel yang agak membesar serta memiliki lekukan-lekukan.
                   2. Anatomi
Tubuhnya sangat kompleks serta tersusun atas filament-filamen yang bercabang yang terjalin kusut. Terdapat kloroplas yang terdiri atas klorofil a dan klorofil b, yang menyebabkan terjadinya perubahan warna ganggang menjadi warna hijau.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara seksual dengan oogami dan anteridium adalah sebuah alat seksual yang memiliki bentuk yang bulat serta berwarna hijau.
4. Habitat
Ganggang ini lebih dominan hidup di laut serta cara hidup yang saling menempel satuu dengan yang lain.
5. Peranan
Ganggang ini dijadikan sebagai bahan obat-obatan.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Halimeda sp yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae
Divisi           : Chlorophyta
Class           : Chlorophyceae
Ordo           : Caulerpales
Family         : Halimedaceae
Genus          : Halimeda
Species       : Halimeda sp (Plantamor.com, 2002)
e. Euchema sp
1. Morfologi
Eucheuma sp merupakan salah satu jenis rumput laut merah (Rhodophyceae). Ciri fisik  Eucheuma sp adalah mempunyai thallus silindris, permukaan licin, cartilogeneus. Keadaan warna tidak selalu tetap, kadang-kadang berwarna hijau,  hijau kuning,  abu-abu atau merah. Perubahan warna sering terjadi hanya karena faktor lingkungan. Kejadian ini merupakan suatu proses adaptasi kromatik yaitu penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan.
                   2. Anatomi
Keseluruhan tanaman ini merupakan batang yang dikenal dengan thallus. Thallusnya tidak memiliki dinding atau sekat pemisah yang melintang, dan pada dinding yang menyelubungi itu massa plasma yang mengandung banyak inti dan kloroplas. Terdapat kloroplas yang terdiri atas klorofil a dan klorofil b, yang menyebabkan terjadinya perubahan warna ganggang menjadi warna hijau.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara aseksual dengan pembentukan zoospora, atau peleburan sel kelamin.
4. Habitat
Habitat khasnya adalah daerah yang memperoleh aliran air laut yang tetap. Tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram.
5. Peranan
Euchema sp banyak mengandung protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, banyak digunakan untuk bahan pada pembuatan agar-agar.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Euchema sp yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae
Divisi           : Rhodophyta
Class           : Rhodophyceae
Ordo           : Gigartinales
Family         : Solieriaceae
Genus          : Eucheuma
Species       : Euchema sp (Plantamor.com, 2002)
b. Pengamatan Jamur
1. Pengamatan Jamur Makroskopis
a. Jamur Kuping (Auricularia polytricha)
1. Morfologi
Karakteristik dari jamur kuping ini adalah memiliki tubuh buah yang kenyal (mirip gelatin) jika dalam keadaan segar. Namun, pada keadaan kering, tubuh buah dari jamur kuping ini akan menjadi keras seperti tulang. Bagian tubuh buah dari jamur kuping berbentuk seperti mangkuk atau kadang dengan cuping seperti kuping, memiliki diameter 2-15 cm, tipis berdaging, dan kenyal.
                   2. Anatomi
Memiliki basidium yang berkumpul dalam badan yang disebut basidiokarp, yang selanjutnya akan menghasilkan spora yang disebut basidiospora.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara vegetatif yaitu dengan membentuk tunas, dengan konidia, dan fragmentasi miselium. Sedangkan, reproduksi generatif jamur kuping adalah dengan menggunakan alat yang disebut basidium.

4. Habitat
Jamur kuping biasanya tumbuh pada batang pohon/kayu yang sudah lapuk/mati.
5. Peranan
Jamur kuping memiliki banyak manfaat kesehatan, di antaranya untuk mengurangi penyakit panas dalam, rasa sakit pada kulit akibat luka bakar, dan obat antikoagulan serta sebagai bahan pangan
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Jamur Kuping (Auricularia polytricha) yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Fungi
Divisi           : Basidiomycota
Class           : Agaricomycetes
Ordo           : Auriculariales
Family         : Auriculariaceae
Genus          : Auricularia
Species       : Auricularia polytricha (Plantamor.com, 2002)
b. Jamur Merang (Volvariella volvaceae)
1. Morfologi
Tubuhnya berbentuk bulat telur, berwarna coklat gelap hingga abu-abu dan bagian batangnya berwarna coklat muda. Bagian tudung dapat berkembang menjadi bentuk cawan.
                   2. Anatomi
Tidak memiliki klorofil sehingga warnanya putih dan tidak dapat menghasilkan makanan sendiri, sehingga proses pengambilan makanannya dengan cara saprofit. Memiliki benang-benang halus yang disebut hifa, yang seluruhnya merupakan miselium.

                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara vegetatif yaitu dengan pembentukan tunas muda dan reproduksi generatif yaitu dengan menghasilkan spora yang terbentuk di dalam sel-sel khusus (askus).
4. Habitat
Habitat jamur merang yaitu hidup pada batang kayu/pohon yang sudah lapuk, dapat juga bertahan pada suhu relatif tinggi yaitu sekitar 30o-38o C .
5. Peranan
Pada jenis jamur ini banyak terkandung protein, kalsium dan fosfor sehingga dapat digunakan sebagai bahan makanan. Jamur merang mempunyai rasa enak, gurih, dan tidak mudah berubah wujudnya jika dimasak, sehingga digunakan untuk berbagai macam masakan, seperti mi ayam jamur, tumis jamur, pepes jamur, sup dan capcay.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Jamur Merang (Volvariella volvaceae) yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Fungi
Divisi           : Basidiomycota
Class           : Homobasidiomycetes
Ordo           : Agaricales
Family         : Pluteaceae
Genus          : Volvariella
Species       : Volvariella volvaceae (Plantamor.com, 2002)
c. Jamur Tiram (Plearatus ostreatus)
1. Morfologi
Tubuhnya berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Memiliki tangkai yang tumbuh menyamping & bentuknya seperti tiram serta permukaannya yang hampir licin.
                   2. Anatomi
Tidak mengandung klorofil, tetapi banyak mengandung kalsium, karbohidrat, protein dan mineral. Memiliki spora berbentuk batang dan miselia yang berwarna putih yang dapat berkembang secara cepat.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara vegetatif yaitu dengan membentuk tunas dan secara generatif  yaitu menghasilkan spora.
4. Habitat
Habitat tumbuhnya di alam bebas, hampir dijumpai sepanjang tahun di daerah pegunungan yang sejuk, tumbuhnya melekat pada batang kayu yang sudah mati dan lapuk.
5. Peranan
Jamur tiram ini memiliki manfaat kesehatan diantaranya, dapat mengurangi kolesterol dan jantung lemah serta beberapa penyakit lainnya. Juga dapat digunakan sebagai bahan pangan karena banyak mengandung protein, karbohidrat, dan vitamin
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Jamur Tiram (Plearatus ostreatus) yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Fungi
Divisi           : Basidiomycota
Class           : Homobasidiomycetes
Ordo           : Agaricales
Family         : Tricholomataceae
Genus          : Plearatus
Species       : Plearatus ostreatus (Plantamor.com, 2002)
d. Jamur Shitake (Lentinula edodes)
1. Morfologi
Batang dari tubuh ini sering melengkung dan keras, payungnya terbuka lebar dan berwarna coklat tua dengan bulu-bulu halus dibagian permukaan payung dan bagian bawah payung berwarna putih.
                   2. Anatomi
Mengandung zat warna yang umumnya terdiri atas senyawa aromatic yang tidak mengandung nitrogen. Spora merupakan alat perkembangbiakan secara vegetatif, pada bagian tudung terdapat bilah yang di dalamnya terdapat nasidiospora.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara vegetatif adalah dengan pembentukan tunas oleh konidium dan fragmentasi miselium. Reproduksi secara generatif yaitu dengan basidium yang menghasilkan spora.
4. Habitat
Habitat yaitu hidup pada permukaan pohon yang sudah mati dan melapuk sebagai tempat tumbuhnya. Jamur shiitake tumbuh di permukaan batang kayu yang melapuk dari pohon Castanopsis cuspidata, Castanea crenata (kastanye), dan jenis pohon lainnya.
5. Peranan
Jamur shiitake segar atau dalam bentuk kering sering digunakan dalam berbagai masakan di banyak negara. Dapat digunakan sebagai bahan pangan dan juga berguna dalam pengobatan penyakit saluran pernapasan, melancarkan sirkulasi darah.


6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Jamur Shitake (Lentinula edodes) yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Fungi
Divisi           : Basidiomycota
Class           : Homobasidiomycetes
Ordo           : Agaricales
Family         : Marasmiaceae
Genus          : Lentinula
Species       : Lentinula edodes (Plantamor.com, 2002)
2. Pengamatan Jamur Mikroskopis
a. Air tape (Saccharomyces serevisiae)
1. Morfologi
Bentuknya bulat oval serta dinding selnya sangat tipis ketika masih tua dan akan menebal seiring dengan perkembangannya. Setiap selnya memiliki bekas tunas.
                   2. Anatomi
Dinding selnya banyak mengandung protein dan kitin dan lipid. Memiliki membran sitoplasma, vakuola dan mitokondria. Sehingga mampu melakukan respirasi dengan mengoksidasi gula menjadi karbondioksida dan air.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya yaitu pertunasan multipolar yaitu dengan munculnya tunas dari ujung sel. Pembelahan tunas yang telah muncul dan pembentukan askospora yang berbentuk bulat atau oval serta permukaan yang halus.
4. Habitat
Habitat Tumbuh di daratan dan menempel pada substrat yang mati.
5. Peranan
Berperan dalam pembuatan roti, anggur, dan bir yang dapat mengoksidasi gula menjadi karbondioksida dan air.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Saccharomyces serevisiae yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Fungi
Divisi           : Ascomycota
Class           : Saccharomycetes
Ordo           : Saccharomycetales
Family         : Saccharomycetaceae
Genus          : Saccharomyces
Species       : Saccharomyces serevisiae (Plantamor.com, 2002)
b. Tongkol Jagung yang berjamur (Aspergillus oryzae)
1. Morfologi
Hifa pada tumbuhan ini bersekat, serta sporanya yang terlihat tidak memiliki flagel. Bagian kepala konidia berbentu bulat. Memiliki konidia sebagai alat perkembang biakan, memiliki konidiofor yaitu hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat dan tolon adalah hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat.
                   2. Anatomi
Termasuk tumbuhan bersel satu atau bersel banyak, yang bersel satu terdapat pada khamir. Memiliki dinding sel yang kemudian akan membentuk askus spora, memiliki sekat di dalam setiap hifa yang berfungsi untuk menghubungkan hifa yang satu dengan yang lain.


                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara vegetatifnya dengan membentuk tunas, serta reproduksi generatifnya dengan membentuk spora.
4. Habitat
Hidup sebagai saprolia pada bermacam-macam bahan organik seperti pada roti yg sudah di olah. Ada juga yang habitatnya berada di darat, di tempat yang lembab dan menempel pada sisa organisme yang mati.
5. Peranan
Aspergillus oryzae, digunakan dalam pembuatan kecap dan tauco, serta dalam pembuatan minuman beralkohol.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Aspergillus oryzae yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Fungi
Divisi           : Ascomycota
Class           : Eurotiomycetes
Ordo           : Eurotiales
Family         : Trichocomaceae
Genus          : Aspergillus
Species       : Aspergillus oryzae (Plantamor.com, 2002)
c. Roti berjamur (Rhizopus stoloniferus)
1. Morfologi
Memiliki sporangium yg merupakan kotak spora. Terdapat sporangiofor yaitu hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat yang memiliki sporangia globuler (berbentuk bulat) di ujungnya.

                   2. Anatomi
Memiliki spora yang terdapat pada sporangium. Memiliki hifa yang bercabang banyak, tidak bersekat saat muda.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara vegetatif yaitu membentuk spora tak berflagel. Generatif dengan cara gamaet giogami dari 2 hifa yang kompatibel/konjugasi 2 hifa (+) dan (-) bertemu membentuk zigospora.
4. Habitat
Hidup didarat, di tanah atau pada organisme yang telah mati, sebagian besar hidup pada makanan seperti tempe yang berjamur serta sisa tumbuhan dan hewan.
5. Peranan
Berperan dalam pembentukan tape dan oncom.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Rhizopus stoloniferus yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Fungi
Divisi           : Zigomycota
Class           : Zigomycetes
Ordo           : Micorales
Family         : Mucoraceae
Genus          : Rhizopus
Species       : Rhizopus stoloniferus (Plantamor.com, 2002)
d. Nasi basi (Rhizopus oryzae)
1. Morfologi
Memiliki sporangium yg merupakan kotak spora. Terdapat sporangiofor yaitu hifa yang tumbuh tegak pada permukaan substrat yang memiliki sporangia globuler (berbentuk bulat) di ujungnya.
                   2. Anatomi
Memiliki spora yang terdapat pada sporangium. Memiliki hifa yang bercabang banyak, tidak bersekat saat muda.
                   3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara vegetatif yaitu membentuk spora tak berflagel. Generatif dengan cara gamaet giogami dari 2 hifa yang kompatibel/konjugasi 2 hifa (+) dan (-) bertemu membentuk zigospora.
4. Habitat
Hidup didarat, di tanah atau pada organisme yang telah mati, sebagian besar hidup pada makanan seperti tempe yang berjamur serta sisa tumbuhan dan hewan.
5. Peranan
Berperan dalam pembentukan tape dan oncom.
6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Rhizopus oryzae yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Fungi
Divisi           : Zigomycota
Class           : Zigomycetes
Ordo           : Micorales
Family         : Mucoraceae
Genus          : Rhizopus
Species       : Rhizopus oryzae (Plantamor.com, 2002)



c. Pengamatan Lichenes
1. Lumut kerak (Parmelia acetabulum)
1. Morfologi
Talusnya berupa lembaran, dan seluruhnya melekat dengan sisi bawahnya pada alas. Bagian dalam talus terdiri dari anyaman hifa yang renggang dan merupakan lapisan teras / empulus. Memiliki talus yang pertumbuhannya sangat lambat. Dapat bertahan dari terik matahari, walaupun akan kering, tumbuhan ini tetapi tidak mati. Berbentuk daun dan datar seperti kerak.
2. Anatomi
Mengandung klorofil karena lumut kerak merupakan simbiosis dari algae dan jamur, algae yang memiliki banyak klorofil serta lumut yang menyediakan unsur hara. Sel-selnya bergerombol membentuk lapisan gonidium. Kulit luarnya terdiri atas miselium cendawan yang teranyam sebagai plektenkim yang rapat.
3. Sistem Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara vegetatif yaitu dengan cara fragmentasi soredium yang kemudian akan tumbuh pada substrat yang lain dengan bantuan angin. Reproduksi secara generatif yaitu dapat menghasilkan spora untuk perkembangbiakan.
4. Habitat
Habitatnya berada di semua kondisi lingkungan, menempel pada kayu yang telah lapuk atau bebatuan.
5. Peranan
Berperan dalam pembentukan tanah dari pelapukan kayu dan batu yang keras. Sehingga di sebut juga sebagai tumbuhan vegetasi perintis. Selain itu lumut ini juga dapat mengikat nitrogen bebas.


6. Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Lumut kerak (Parmelia acetabulum) yaitu sebagai berikut:
Kingdom     : Plantae
Divisi           : Thallophyta
Class           : Ascolichenes               
Ordo           : Discomycetales
Family         : Discomycetaceae
Genus         : Parmelia
Species       : Parmelia acetabulum (Plantamor.com, 2002)
E. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Ciri-ciri tumbuhan yang tergolong thallophyta yaitu tubuh masih berupa thallus, karena belum bisa dibedakan antara daun, batang dan akarnya. Tersusun oleh satu sel yang berbentuk bulat. Perkembangbiakan pada umumnya secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual) dengan spora sebagai alat perkembangbiakannya. Cara hidup pada tumbuhan talus ada tiga cara yaitu : autotrof (asimilasi dengan fotosintesis), heterotrof dan simbiosis.
2. Perbedaan antara sub divisi algae, fungi dan lichens yaitu :
a. Alga: Ganggang ada yang bersel satu dan bersel banyak, bersifat eukariotik, habitat di air tawar, air laut dan daerah-daerah yang lembab, reproduksi dilakukan secara seksual (konjugasi, anisogami, isogami) atau aseksual memiliki berbagai zat warna (pigmen).
b. Jamur (Fungi): Jamur merupakan organisme uniseluler maupun multiseluler, umumnya berbentuk benang disebut hifa, dinding sel mengandung kitin, eukariotik, tidak berklorofil, habitat jamur secara umum terdapat di darat dan tempat yang lembab.
c. Lichenes: Lumut kerak merupakan Simbiosis antara jamur dan algae, tergolong tumbuhan perintis yang ikut berperan dalam pembentukan tanah, lumut kerak bersifat endolitik karena dapat masuk pada bagian pinggir batu, Lichenes yang hidup pada batuan dapat menjadi kering karena teriknya matahari, tetapi tumbuhan ini tidak mati, dan jika turun hujan bisa hidup kembali.
3. Contoh tumbuhan yang tergolong thallophyta yaitu :
a. Algae : Sargassum sp, Turbinaria sp, euchema sp, Halimeda sp, Coulerpa sp, Euglena viridis, dan Dinobryon acuminatum.
b. Jamur : Saccharomices cereviceae, Aspergillus sp., Rhizopus stoloniferus, Jamur kuping (Auriculari polytricha), jamur tiram (Plearatus ostreatus), jamur shitake (Lentinula edodes), dan jamur merang (Volvariella volvacea).
c.  Lichenes : Lumut kerak (Parmelia acetabulum)












DAFTAR PUSTAKA
Fitrah. 2010. Divisi Thallophyta. Blog FitrahSains. http://biologi-news.blogspot.           com/ 2011/11/divisi-thallopyta.html (22 Desember 2013).
Gembong, Tjitrosoepomo. Taksonomi Tumbuhan Rendah. Yogyakarta: Gajah Mada  
            University Press, 1989.
Muliyanti. 2009. Fungi. Blog MuliyantiNature http://www.muliyanti.blogspot.com/       fungi.html. (22 Desember 2013).
Plantamor. 2002. Klasifikasi tumbuhan. http//:www.plantamor.com. (22 Desember        2012)
Sianipa, Prowel. Biologi. Yogyakarta: Pustaka Publisher, 2010.
Post a Comment