## MOHON MENGKLIK SALAH SATU KONTEN IKLAN YANG MUNCUL DI BLOG KAMI SEBAGAI BENTUK DONASI PENGUJUNG YANG AKAN DIGUNAKAN UNTUK MAINTENANCE BLOG KAMI ##

Wednesday, 5 February 2014

MAKALAH SISTEM EKSKRESI



MAKALAH
SISTEM EKSKRESI








Disusun oleh:

            NAMA            :    LASINRANG ADITIA
            NIM                :    60300112034
            KELAS           :    BIOLOGI A

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita hidayah dan rahmat-Nya agar senantiasa dekat dengan diri-Nya dalam keadaan sehat  wal’afiat. Serta salam dan shalawat kita kirimkan kepada Muhammad SAW, dimana nabi yang membawa ummat-Nya dari zaman kegelapan  menuju zaman yang terang benderang dan telah menjadi suri tauladan bagi ummat-Nya.
Dalam makalah ini penulis akan membahas masalah mengenai” Sistem Ekskresikarena sangat penting untuk kita ketahui apa itu sistem ekdkresi yang berhubungan dengan pengeluaran sisa-sisa metabilisme mahkluk hidup pada umumnya dan manusia pada khususnya.
Penulis sangat mengharapkan agar pembaca dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan-Nya tentang sistem ekskresi ini.. Saran dan kritik yang membangun tetap kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata tiada gading yang tak retak, begitu juga dengan manusia sendiri.


                                                                                  Samata-Gowa, 23 November 2013

                                                                                             Lasinrang Aditia
                                                                       


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................... 2
DAFTAR ISI..................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................. 3
B. Tujuan Penulisan............................................................................................ 3
C. Rumusan Masalah.......................................................................................... 3
D. Manfaat Penulisan.......................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Sistem Ekskresi............................................................................ 4
B. Sistem Ekskresi Pada Hewan......................................................................... 4-14
C. Sistem Eksresi Pada Manusia......................................................................... 14-23
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................... 24
B. Saran............................................................................................................. 25
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 26




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tubuh melakukan begitu banyak proses metabolisme  seperti pencernaan, respirasi dan sebagainya. Proses-proses seperti itu pada akhirnya akan menghasilkan limbah yang tidak dikeluarkan jika tidak dikeluarkan akan menyebabkan penyakit. Limbah yang dihasilkan beraneka ragam bentuknya, mulai dari gas, cair, sampai padat.Untuk itu, kita memerlukan organ pengeluaran yang berbeda-beda pula. Proses pembebasan sisa-sisa metabolisme dari tubuh disebut ekskresi. Kelebihan air, garam-garam dan material-material organik (termasuk sisa-sisa metabolisme) diekskresikan keluar tetapi substan yang esensial untuk fungsi-fungsi tubuh disimpan. Material-material yang dikeluarkan ini biasanya terdapat dalam bentuk terlarut dan ekskresinya melalui suatu proses filterisasi selektif. Manusia dan hewan memiliki sistem ekskresi yang berbeda. Adapun yang melatar belakangi penulisan makalah ini adalah mengetahui kerja sistem ekskresi pada berbagai mahkluk hidup.
B. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengidentifikasi tentang sistem ekskresi pada manusia dan hewan.
C. Rumusan Masalah
  1. Apa saja alat tubuh manusia yang dapat mengekskresikan sisa metabolisme?
  2. Apa saja alat tubuh hewan yang dapat mengekskresikan sisa metabolisme dan bagaimana caranya?
D. Manfaat
  1. Dapat mengetahui alat tubuh manusia yang dapat mengekskresikan sisa metabolism.
  2. Dapat mengetahui alat tubuh hewan yang dapat mengekskresikan sisa metabolism.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sistem Ekskresi
Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat. Zat hasil metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui alat ekskresi. Alat ekskresi yang dimiliki oleh mahluk hidup berbeda-beda.Semakin tinggi tingkatan mahluk hidup maka semakin kompleks alat ekskresinya. Beberapa istilah yang erat kaitannya dengan ekskresi  yaitu defekasi yang merupakan proses pengeluaran sisa pencernaan makanan yang disebut feses. Zat yang dikeluarkan belum pernah mengalami metabolisme di dalam jaringan. Zat yang dikeluarkan meliputi zat yang tidak diserap usus sel epitel, usus yang rusak dan mikroba usus. Selain defekasi ada juga eliminasi yang merupakan  proses pengeluaran zat dari rongga tubuh, baik dari rongga yang kecil (saluran air mata) maupun dari rongga yang besar (usus).
B. Sistem Ekskresi Pada Hewan
Hewan juga melakukan metabolisme untuk melakukan aktifitas kehidupan.Metabolisme menghasilkan zat sisa yang harus dieksresikan dari tubuh. Setiap hewan memiliki cara yang berbeda untuk mengeksresikan sisa metabolisme.
1. Sistem Ekskresi Pada Invertebrata
Pada hewan invertebrata belum terdapat sistem ekskresi.Akan tetapi, sisa-sisa metabolisme harus dikeluarkan dari dalam tubuh organisme. Untuk itu, hewan invertebrata memiliki alat dan cara ekskresi tersendiri.
a. Sistem Ekskresi Protozoa
Pengeluaran sisa metabolisme protozoa dilakukan melalui membran secara sel difusi. Protozoa mempunyai organel ekskresi berupa vakuola berdenyut yang bekerja secara periodik untuk mengatur kadar air dalam sel. Sewaktu mengeluarkan air, sisa-sisa metabolisme ikut dikeluarkan.

b. Sistem Ekskresi Coelentrata dan Porifera
Pada coelentrata dan porifera, pengeluaran sisa metabolisme berlangsung secara difusi, dari sel tubuh ke epidermis, lalu epidermis ke lingkungan yang hidupnya yang berair.
Gambar coelenterate yaitu :













c. Sistem Ekskresi Cacing Pipih
Pengeluaran sisa metabolisme pada cacing pipih dan cacing pita dilakukan dengan selenosit yang disebut juga protonefridium atau sel api. Disebut sel api karena gerakannya seperti api. Sel api menyerap sisa metabolisme dari sel-sel sekitarnya, lalu mengalirkan sisa metabolisme dengan gerakan silia ke duktus ekskretorius.
d. Sistem Ekskresi Annelida
Untuk mempelajari sistem ekskresi pada annelida, kita ambil contoh cacing tanah.Alat ekskresi cacing tanah adalah sepasang metanifridium berentuk tabung yang terdapat disetiap segmen tubuhnya.Ujung yang terdapat dalam segmen, terbuka dan berbentuk corong bersilia, disebut nefrostom. Ujung lain lainnya yang bermuara ke luar tubuh disebut nefridiofor. Pada nefrostom terdapat gulungan tubulus (tabung) dan bagian yang menggelembung.Nefridiofor dilewati materi-materi yang dikeluarkan oleh bagian yang menggelembung dari nefrostom tersebut.Gulungan tubulus nefrostom diselubungi pembuluh-pembuluh darah yang membentuk jaringan.
Materi-materi keluar dari cairan tubuh anterior menuju nefridium lewat nefrostom yang terbuka.Akan tetapi, beberapa materi penting (air dan makanan) diikat langsung oleh sel-sel pada gulungan tubulus dan menembus pembuluh darah di sekitar tubulus yang kemudian disirkulasikan lagi.Saat cairan bergerak di sepanjang tubulus.Garam-garam yang keluar dari tubulus ini diabsorpsi oleh darah dalam kapiler pembuluh darah yang menyelubungi tubulus.Urin yang dikeluarkan oleh cacing tanah berbentuk cair dan mencapai 60% dari berat tubuh.
e. Sistem ekskresi pada insecta
Insecta mempunyai alat yang disebut pembuluh malpighi. Pembuluh malpighi melekat pada ujung anterior usus belakang. Zat-zat sisa metabolisme diserat dari cairan jaringan oleh pembuluh malpighi bagian ujung distal. Dari bagian ini, cairan masuk ke bagian proksimal pembuluh malpighi dan membentuk kristal asam urat yang kemudian masuk ke usus belakang yang akhirnya keluar bersama feses. Sebagian zat sisa-sisa yang mengandung nitrogen dimanfaatkan untuk membentuk kitin pada eksokeleton (rangka luar), dan dapat ikut dieksresikan sewaktu molting atau pengelupasan kulit.


f. Osmoregulasi pada lumba-lumba
Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organism hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan di sekitarnya.Misalnya pada lumba-lumba osmoregulasinya pada pemasukan garam yang terlalu banyak yang masuk bersama makanan diatasi dengan organ ginjal yang sangat efisien yang kepekatannya 3 sampai 4 kali dari cairan plasmanya.
2. Sistem Ekskresi Pada Vertebrata
Alat ekskresi yang utama pada vertebrata adalah ginjal (ren).Struktur ginjal yang paling primitif pada vertebrata disebut akrinefros atau holonefros.Pada prinsipnya terdapat tipe ginjal pada vertebrata, yaitu pronefros, mesonefros, dan metanefros.Pronefros adalah ginjal yang berkembang pada fase embrio vertebrata selain mamalia, embrio berudu dan larva amphibia, pronefros, digantikan oleh mesonefros. Mesonefros merupakan ginjal pada bagian embrio sebagian vertebrata, ikan dewasa, mesonefros akan berubah menjadi metanefros selama masa perkembangan embrio.
Ada tiga tipe ginjal pada vertebrata yaitu :
a. Pronefros
Ginjal pronefros adalah yang paling primitive dan hanya fungsional pada jenis ikan tingkat rendah, misalnya pada Cyclostoma. Meski terdapat pada perkembangan embrional sebagian besar ikan, tetapi saat dewasa tidak fungsional, fungsinya akan digantikan oleh mesonephros. Perkecualian pada ikan‘hagfish’(Myxine) dan lamprey.
b.   Mesonefros
Ginjal bertipe mesonefros, berfungsi seperti opistonefros pada embrio emniota.Keduanya mirip, perbedaan prinsip adalah kaitannya dengan sistem peredaran darah, tingkat kompleksitas, dan pada efisiensinya.
c.  Metanerfos
Ginjal ini terbentuk dari degenerasi dari pronerfos dan mesonerfos Ginjal yang pertama kali dibentuk adalah ginjal pronefros yang terletak didaerah kepala.Selanjutnya dibentuk ginjal mesonefros yang diikuti dengan berdegenerasinya pronefros.Kemudian pada daerah sebelah posterior mesonefros dibentuk ginjal metanefros.Ketiga jenis ginjal tersebut merupakan organ-organ yang berpasangan Ginjal dibentuk dari mesoderem intermediat dimulai dengan tampaknya pronefros yang terdiri atas beberapa pasang tubulus pronefros yang teletak ada bagian cephal dari mesoderem intermediat.Tubulus-tubulus tersebut dibentuk dengan urutan cephalocaudal.
Pronefros pertama tampak sebagai deretan yang terdiri atas segmen- segmenn yang disebut nefrotom, yaitu massa sel-sel mesoderem intermediat. Nefrotom kemudian terpisah membentuk suatu rongga yang disebut nefrocoel yang bersinambungan dengancoelom, yaitu rongga yang memisahkan lapisan parietal  dari mesoderem lateral.
Adapun beberapa hewan vertebrata yaitu :
a. Sistem ekskresi pada ikan
Alat ekskresi pada ikan berupa sepasang ginjal mesonefros yang terikat disisi dorsal rongga tubuh.Bentuk ginjal mesonefros sempit memanjang, berwarna coklat, dan pada ujung anteriornya berhubungan dengan sistem reproduksi.Tubulus ginjal mengalami modifikasi menjadi duktus eferen yang menghubungkan testis dengan duktus mesonefridikus.Selanjutnya, duktus mesonefridikus menjadi duktus deferens yang berfungsi untuk mengangkut sperma dan urin yang bermuara di kloaka.
Mekanisme ekskresi pada hewan yang masih hidup di air tawar berbeda dengan mekanisme ekskresi pada ikan yang hidup di air laut.Cairan tubuh ikan air tawar bersifat hiperosmotik dibandingkan dengan air tawar, sehingga air cenderung masuk ke tubuh ikan.Di saat yang bersamaan, ion tubuh cenderung keluar ke air.Untuk itu mengatasi masalah kelebihan air dan kekurangan ion, ikan air tawar biasanya tidak banyak minum.Tubuhya diselimuti lendir untuk mencegah masuknya air secara secara berlebihan.Ikan aktif menyerap ion anorganik melalui insang dan banyak mengeluarkan air melalui urin yang encer.
Ikan yang hidup di air laut mengekskresikan sampah nitrogen yang kurang beracun, yaitu trimetilamin oksida (TMO). Zat ini memberi bau khas air laut. Selain itu, ikan air laut mengekskresikan ion-ion lewat insang dan mengeluarkan urin dengan volume yang kecil.Ginjal ikan air laut tidak memiliki glomerulus.Akibatnya tidak terjadi ultrafiltrasi di ginjal, dan urin terbentuk oleh sekresi garam-garam dan TMO yang berkaitan dengan osmosis air.
b. Sistem Ekskresi Amphibia
Amphibia memiliki alat ekskresi berupa ginjal mesonefros.Pada katak jantan, saluran ginjal bersatu dengan saluran kelamin.Sebaliknya, pada katak betina saluran ginjal dan kelamin terpisah.Ginjal amphibia berhubungan dengan ureter di vesika urinaria.
Saat amphibia mengalami metamorfosis, hasil ekskresi amphibia juga berubah.Larva amphibia mengekskresikan amonia, sedangkan berudu dan hewan dewasa mengekskresikan urea.
c. Sistem Ekskresi Reptilia
Alat ekskresi pada reptilia adalah sepasang ginjal metanefros.Metanefros berfungsi setelah pronefros dan mesonefros yang merupakan alat ekskresi pada stadium embrional menghilang.Ginjal dihubungkan oleh ureter ke vasika urinaria (kandung kemih).Vesika urinaria bermuara langsung ke kloaka.
Pada jenis kura-kura tertentu terdapat sepasang vesika urinaria tambahan yang juga bermuara langsung ke kloaka.Vesika urinaria tambahan berfungsi sebagai organ respirasi.Pada kura-kura betina, organ respirasi tersebut juga berfungsi membasahi tanah yang dipersiapkan untuk membuat sarang sehingga tanah menjadi lunak dan mudah digali.
Hasil ekskresi reptilia adalah asam urat.Reptilia hanya menggunakan sedikit air untuk membilas sampah nitrogen dari darah karena sebagian besar sisa metabolisme diekskresikan sebagai asam urat yang tidak beracun.Asam urat yang dikeluarkan oleh reptilia berbentuk pasta (bubur) berwarna putih.Sisa air direabsorpsi olah bagian tabung ginjal. Buaya dan  penyu air tawar mengekskresikan asam urat dan amonia. Pada penyu laut terjadi ekskresi garam dari sepasang kelenjar garam di kepala yang bermuara di sudut mata, sehinga penyu laut tampak seperti mengeluarkan air mata.Buaya tidak mempunyai vesika urinaria sehingga asam urat keluar bersama feses.
d. Sistem ekskresi aves
Alat ekskresi burung berupa sepasang ginjal metanefros. Burung tidak memiliki vesika urinaria (kandung kemih)  sehingga hasil ekskresi dari ginjal disalurkan langsung ke kloaka melalui ureter. Tabung ginjal burung sangat banyak sehingga metabolisme burung aktif.Tiap 1 ml jaringan korteks ginjal burung mengandung 100 – 500 tabung ginjal. Tabung ginjal ini membentuk lengkung Henle kecil.




Air dalam tubuh diperoleh melalui reabsorpsi di tubulus.Di dalam kloaka juga terjadi reabsorpsi air yang menambah jumlah air dalam tubuh.Sampah nitrogen dibuang sebagai asam urat yang dikeluarkan lewat kloaka. Asam urat berbentuk kristal putih yang bercampur feses. Pada burung laut, misalnya camar, selain mengekskresikan asam urat juga mengekskresikan garam.Hal ini disebabkan karena burung laut meminum air garam dan makan ikan laut yang mengandung garam.Burung laut memiliki kelenkjar pengekskresi garam diatas mata.Larutan garam mengalir ke rongga hidung kemudia keluar lewat nares luar dan akhirnya garam menetes dari ujung paruh.
C. Sistem Eksresi Pada Manusia
Tubuh manusia mempunyai beberapa sistem ekskresi diantaranya ginjal, paru-paru, hati dan kulit.
1. Ginjal
Alat tubuh yang mempunyai fungsi spesifik untuk ekskresi sisa metabolisme yang mengandung nitrogen adalah ginjal. Adapun beberapa bagian pada ginjal yaitu :
a. Struktur ginjal
Ginjal atau ren berbentuk seperti biji buah kacang merah (kara/ercis).Ginjal terletak dikanan dan kiri tulang pinggang yaitu didalam rongga perut pada dinding tubuh dorsal.Ginjal berjumlah dua buah and berwarna merah keunguan.Ginjal sebelah kiri terletak agak lebih tinggi daripada ginjal sbelah kanan.Lapisan ginjal bagian luar disebut kulit ginjal atau korteks, sedangkan lapisan dalam disebut sumsum ginjal atau medula.Lapisan paling dalam berupa rongga ginjal yang disebut pelvis renalis.Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil disebut nefron. Tiap nefron terdiri atas badan malpighi yang terusun dari kapsul Bowman. Tubulus-tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat bagian medula.Pada sebuah ginjal manusia terdapat kurang lebih 1 juta nefron.
Kapsul Bowman berdinding rangkap dengan glomerulus didalam cekungan kapsulnya.Glomerulus merupakan untaian pembuluh kapiler darah yang dindingnya bertaut menjadi satu dengan dinding kapsul Bowman sehingga zat-zat yang terlarut dalam darah merembes ke dalam ruang kapsul Bowman yang berdinding rangkap.Pembuluh darah arteri yang bercabang-cabang menjadi sejumlah arteriola yang disebut arteriola aferen.Arteriola aferen bercabang-cabang menjadi kapiler glomerulus.Kapiler glomerulus bersatu kembali menjadi arteriola aferen dan membelit mengelilingi tubulus proksimal, lengkung henle, dan tubulus distal dari suatu nefron.Kapiler glomerulus kemudian bermuara ke dalam venula, serta bergabung menjadi vena renalis menuju vena kava inferior.
Lengkung henle adalah bagian saluran ginjal (tubulus) yang melengkung pada daerah medua dan berhubungan dengan tubulus prosimal maupun tubulus distal di daerah korteks.Bagian lengkung henle ada dua, yaitu lengkung Henle asendens (menanjak) dan lengkung Henle desendens (menurun). Pada orang dewasa, panjang seluruh tubuh ±7,5-15 km.
Ginjal dilindungi oleh lemak.Ginjal memiliki arteri renal (arteri ginjal) yang menyuplai darah.Tiap renal memiliki jaringan pembuluh (kapiler) di bagian korteks.Sebagai akibatnya, korteks tampak lebih gelap daripada medula.Ginjal juga mengendalikan potensi air pada darah yang melewatinya. Substansi yang menyebabkan ketidakseimbangan potensi air pada darah akan dipisahkan dari darah dan diekskresikan dalam bentuk urin. Misalnya, sisa nitrogen hasil pemecahan asam amino dan asam nukleat.
b. Proses pembentukan urine
Ada beberapa proses pada pembentukan urine yaitu :
1. Filtrasi (penyaringan)
Firltrasi terjadi di kapsul Bowman dan glomerulus.Dinding terluar kapsul Bowman tersusun dari satu lapis sel epitelium pipih.Antara dinding luar dan dalam terdapat ruang kapsul yang berhubungan dengan lumen tubulus kontortus proksimal.Dinding dalam kapsul Bowman tersusun dari sel-sel khusus yang disebut podosit.
Proses filtrasinya adalah ketika darah masuk ke glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi sehingga mendorong air dan komponen-komponen yang tidak dapat larut melewati pori-pori endotelium kapiler, glomerulus, kemudian menuju membran dasar, dan melewati lempeng filtrasi, lalu masuk ke dalam ruang kapsil Bowman.
Hasil filtrasi dari glomerulus dan kapsul Bowman disebut filtrat glomerulus atau urin primer. Komposisi urin primer dapat dilihat pada tabel berikut:
Molekul
Kadar per Gram
Air
900
Protein
0
Glukosa
1
Asam Amino
0.5
Urea
0.3
Ion Anorganik
7.2
Tabel 1 Komposisi Utama Urin Primer
2. Reabsorpsi (Penyerapan kembali)
Reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle, dan sebagian tubulus kontortus distal.Reabsorpsi dilakukan oleh sel-sel epitelium di seluruh tubulus ginjal.Banyaknya zat di reabsorpsi tergantung kebutuhan tubuh saat itu. Zat-zat yang diabsorpsi antara lain adalah air, glukosa, asam amino, ion-ion Na+, K+, Ca2+, Cl-, HC)3-, HBO42- dan sebagian urea.
Reabsporsi terjadi secara transpor aktif dan pasif.Glukosa dan asam amino diabsorpsi secara transpor aktif di tubulus proksimal.Reabsorpsi Na+, HCO3-, dan H2O terjadi ditubulus kontortus distal.
Tahapan terjadinya reabsorpsi adalah sebagai berikut: urin primer, masuk dari glomerulus ke tubulus kontortus proksimal. Urin primer ini bersifat hipotonis dibanding dengan plasma darah.Kemudian terjadi reabsorpsi air dan ion Cl­- secara pasif.Bersamaan dengan itu, filtrat menuju lengkung henle.Filtrat ini telah berkurang volumenya dan bersifat isotonis dibandingkan cairan pada jaringan sekitar tubulus kontortus proksimal.Pada lengkung Henle terjadi sekresi aktif ion Cl- ke jaringan di sekitarnya.Reabsorpsi dilanjutkan ditubulus kontortus distal.Pada tubulus ini terjadi reabsorpsi ion Na+ dan air dibawah kontrol ADH (hormon antidiuretik).Disamping reabsorpsi tubulus ini juga terjadi seksresi H+, NH4+, urea, kreatinin, dan obat-obatan yang ada pada urin.
3. Augmentasi
Urine sekunder dari tubulus kontortus distal akan turun menuju tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul ini masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl- dan urea sehingga terbentuklah urin sesungguhnya.Dari tubulus pengumpul, urin dibawa ke pelvis realis.Dari pelvis renalis mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan tempat penyimpanan sementara urin.
c. Hal-hal yang mempengaruhi produksi urine
Setiap hari ±1500 liter darah melewati ginjal untuk disaring dan membentuk 15—170 liter urin primer.Akan tetapi hanya 1 – 1.5 liter urin yang kita keluarkan.Banyak  sedikitnya  urine  seseorang yang dikeluarkan tiap harinya dipengaruhi oleh hal-hal berikut:
1. Zat-zat diuretik
Zat-zat diuretik, misalnya kopi, teh dan alkohol akan menghambat reabsorpsi ion Na+. Sebagai akibatnya, konsentrasi ADH berkurang sehingga rebasorpsi air terhambat dan volume urin meningkat. Itulah sebabnya jika mengkonsumsi teh atau kopi, maka kita akan sering buang air kecil. Pengeluaran urin secara berlebihan disebut diuresis.
2. Suhu
Jika suhu internal dan eksternal naik diatas normal, maka kecepatan respirasi meningkat.Ini menyebabkan pembuluh kutaneus melebar sehingga cairan tubuh berdifusi dari kapiler ke permukaan kulit.Saat volume air menurun, ADH dieksreksikan sehingga reabsorpsi air meningkat.Disamping itu, peningkatan suhu merangsang pembuluh abdominal mengerut sehingga aliran darah di glomerulus dan filtrasi menurun.Meningkatnya reabsorpsi dan berkurangnya aliran darah di glomerulus mengurangi volume urin. Itulah sebabnya jika cuaca panas, kita jarang buang air kecil.
3. Volume larutan
Volume larutan dalam darah berpengaruh terhadap produksi urin.Jika kita minum air seharian, maka konsentrasi air di daerah menjadi rendah.Hal ini merangsang hipofisis mengeluarkan ADH.Hormon ini meningkatkan reabsorpsi air di ginjal sehingga volume urin turun.
4. Emosi
Emosi tertentu dapat merangsang peningkatan atau penurunan volume urin.
d. Gangguan pada ginjal
Ginjal manusia mengalami gangguan dan kelainan, antara lain karena serangan bakteri, tumor, abnormalitas bentuk ginjal, atau pembentukan batu ginjal. Kelainan dan gangguan fungsi ginjal antara lain sebagai berikut:

1. Nefiritis
Nefiritis adalah kerusakan bagian glomerulus ginjal akibat alergi racun kuman, biasanya disebabkan oleh bakteri streptoccocus.Nefritis mengakibatkan seseorang menderitan urinemia atau oedema.Urinemia adalah masuknya kembali asam urin dan urea kembali ke pembuluh darah.Oedema adalah penimbunan air di kaki karena reabsorpsi terganggu.
2. Batu ginjal
Batu ginjal terbentuk karena pengendapan garam kalsium di dalam rongga ginjal, saluran ginjal, atau kantong kemih. Batu ginjal ini berbentuk kristal yang tidak dapat larut. Kandungan batu ginjal adalah kalsium oksalat, asam urat, dan kristal kalsium fosfat. Endapan garam ini terbentuk jika seseorang terlalu banyak mengkonsumsi garam mineral dan terlalu sedikit mengkonsumsi air.
3. Albuminuria
Albuminuria adalah ditemukannya albumin pada urin.Adanya albumin pada urin merupakan indikasi adanya kerusakan pada membran kapsul endotelium.Selain itu dapat juga disebabkan oleh iritasi sel-sel ginjal karena masuknya substansi racun bakteri, eter, atau logam berat.
4. Glikosuria
Hematuria adalah ditemukannya glukosa pada urin.Adanya glukosa dalam urin menunjukan adanya kerusakan pada tabung ginjal.
5. Hematuria
Adalah ditemukannya sel darah merah dalam urin.Hematurian disebabkan peradangan pada organ urinaria atau iritasi akibat gesekan pada batu ginjal.
6. Ketosis
Ketosis adalah ditemukannya senyawa keton didalam dalam darah.Hal ini dapat terjadi pada orang yang melakukan diet karbohidrat.
7. Diabetes mellitus
Diabetes melitus adalah penyakit yang muncul karena pankreas tidak menghasilkan atau hanya menghasilkan sedikit sekali insulin. Insulin adalah hormon yang mampu mengubah glukosa menjadi glikogen sehingga mengurangi kadar gula dalam darah. Selain itu insulin juga membantu jaringan tubuh menyerap glukosa sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi.Diabetes melitus juga dapat terjadi jika sel-sel hati, otot, dan lemak memiliki respons rendah terhadap insulin.Kadar glukosa di urin dan darah penderita diabetes melitus sangat tinggi.Ini menyebabkan sering buang air kecil, cepat haus dan lapar, serta menimbulkan masalah pada metabolisme lemak dan protein.
8. Diabetes insipidus
Arteri adlah jantung, Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang menyebabkan penderita mengeluarkan urin terlalu banyak.Peyebab diabetes insipidus adalah kekurangan hormon ADH.ADH ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis bagian belakang.Jika kekurangan ADH, jumlah urin dapat naik 20 – 30 kali lipat dari keadaan normal.Komposisi urine bervariasi tergantung jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi.Urin normal berwarna jernih transparan.Warna kuning muda urin berasal dari zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin). Urin normal pada manusia mengandung air, urea, asam urat, amonia, keratin, pula garam-garam, terutama garam dapur, zat-zat  yang  berlebihan  di dalam  darah  misalnya vitamin C dan obat-obatan.
Dilihat dari banyaknya macam zat yang terkandung dalam urin tersebut, ginjal merupakan alat pengeluaran utama. Fungsi ginjal antara lain adalah sebagai berikut:
1. Membuang sisa-sisa metabolisme tubuh
2.  Mengatur keseimbangan air dan garam dalam darah
3.  Membuat zat-zat yang berbahaya bagi tubuh, seperti obat-obatan, bakteri dan zat warna.
4.  Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan zat-zat asam atau basa. Selain itu juga untuk membuang kelebihan bahan makanan tertentu seperti gula dan vitamin.
e. Dialisis darah
Pada tahun 1950, peneliti medis menciptakan ginjal buatan berdasarkan proses dialisis. Proses dialisis adalah metode untuk memisahkan molekul berdasarkan ukurannya. Mesin ini bekerja layaknya sebuah ginjal yang membersihkan darah melalui cara difusi sederhana. Mesin dilengkapi dengan pipa panjang berisi larutan yang komposisinya seperti plasma darah.Larutan ini berada pada satu sisi pipa saja yang dibatasi oleh membran berpori. Jika mesin dinyalakan, darah pasien yang penuh dengan sisa metabolisme akan mengalir sepanjang pipa yang kosong. Setelah darah memenuhi pipa, pipa metabolisme mengalami difusi kedalam larutan yang tersedia dalam pipa tersebut.Setelah disirkulasikan beberapa kali sepanjang pipa mesin dan arteri tubuh, darah pasien sudah cukup bersih dari sisa metabolisme.Selama dianalisis, darah pasien diberi heparin (agen anti penggumpalan/antikoagulan).
Alternatif pengobatan bagi penderita gagal ginjal kronis adalah dengan pencangkokan ginjal baru.Secara teknis, operasi cangkok ginjal cukup sederhana. Ginjal yang rusak diangkat terlebih dahulu kemudian ginjal donor ditempatkan di dalam rongga  perut  bagian bawah, arteri dan vena disambungkan pada arteri dan vena masing-masing. Kemudian ureter dihubungkan dengan kantong kemih (vesika urinaria).
Masalah utama pada pencangkokan ginjal adalah penolakan oleh sistem imun. Sistem imun resipen akan mengenali ginjal cangkokan itu sebagai “benda asing” dan kemudian merusaknya. Berbagai obat yang ditemukan cukup efektif untuk menekan mekanisme imun tubuh tersebut.Ginjal hasil cangkokan tetap berfungsi bertahun-tahun. Penolakan sistem imun dan diminimalisasi bila ginjal berasal dari donor yang kembar identik  dengan  resipien. Pada  transplantasi antar kembar identik, tidak diperlukan obat-obatan imunosupresif dan ginjalnya dapat bertahan lama.
Berikut merupakan tabel perbandingan kadar zat sisa metabolisme dalam plasma darah dan urin.
Macam Zat
Persentase dalam Plasma
Persentase dalam Urin
Kenaikan
Air
92
95
+
Protein
7-9
-
-
Glukosa
0,1
-
-
Na+
0,3
0,35
1 x
Cl-
0,3
0,7